10 Nilai-Nilai Dasar Yang Ada Dalam Adat Suku Rejang

Rumah adat suku rejang, Rejang Lebong.

Berdasarkan buku yang diterbitkan oleh Badan Musyawarah Adat kabupaten Rejang Lebong provinsi Bengkulu.

Blog ini dibuat berdasarkan buku yang dibaca penulis yang berjudul, “KELPEAK UKUM ADAT NGEN RIYAN CA’O KUTEI JANG KABUPATEN REJANG LEBONG” yang diterbitkan oleh Badan Musyawarah Adat kabupaten Rejang Lebong tahun 2007.

Dengan tidak ada maksud untuk mencontek, memplagiat, serta meniru ataupun melanggar hak cipta karya tulis dari pihak yang tersebut di atas, penulis bermaksud menyampaikan informasi yang bersumber pada sumber yang terpercaya tentunya. Mengingat pola kehidupan masyarakat sekarang yang lebih tertarik membaca e- book (Elektronik Book) ketimbang buku manual. Maka melalui blog ini penulis mengemas kembali wawasan dan pengetahuan terkait Adat suku Rejang Lebong yang semakin lama semakin jarang diketahui orang bahkan bisa dibilang sudah sedikit melemah akibat perkembangan jaman yang semakin pesat dan maju. Masyarakat kebanyakan tak lagi peduli akan kelestarian Adat dan budaya suku Rejang itu sendiri. Baiklah langsung saja penulis paparkan topik pembahasan kita kali ini mengenai Kelpeak Ukum Adat Ngen Riyan Ca’o Kutei Jang.

Namun dalam blog ini hanya akan dibahas beberapa hal yang merupakan norma atau nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh suku Rejang. Norma atau nilai-nilai tersebut tertuang dalam prinsip-prinsip di bawah ini.

1. SO SAMO (sesama).

Makna dari prinsip ini adalah bahwa suku Rejang meyakini bahwa manusia akan mempertanggungjawabkan setiap perbuatannya kepada Tuhan yang Maha Esa. Nilai yang mengatur kehidupan di dunia ini harus bersandarkan kepada nilai agama sesuai dengan falsafah yang menyatakan bahwa Adat bersendikan Sara’, Sara’ bersendikan kitabullah. Yang berarti Adat harus bersesuaian dengan syariat dan syariat sudahlah tentu bersesuaian dengan kitab Allah.

2. Kamo Bamo (bersama-sama).

Suku Rejang meyakini bahwa manusia terlahir dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing sehingga merupakan suatu hal mutlak kalau manusia itu saling membutuhkan. Karena hal itu pula suku Rejang mengakui adanya hak bersama yang menjadi milik bersama, prinsip kekeluargaan diutamakan, memprioritaskan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.

3. Adat Tulung Menulung (Adat tolong menolong).

Sudah menjadi kodrat manusia memiliki kekurangan dan keterbatasan. Sebagai upaya mengatasi hal tersebut, dalam adat Rejang telah diatur tentang berasan dalam keluarga yang diistilahkan dengan basen asoak basoak de royot de peroghon dan berasan masyarakat desa yang diistilahkan dengan basen kutei. Intinya hal tersebut dilaksanakan dalam rangka mengetahui apa yang dibutuhkan oleh seseorang atau keluarga baik dalam melaksanakan hajatan maupun dalam menghadapi suatu masalah. Disitulah kesempatan kita untuk memberi bantuan yang biasanya bersifat material, makanya dalam masyarakat Rejang ada istilah petulung. Nilai jumlah tidak menjadi ketentuan asalkan ikhlas dalam membantu. Karena itu timbullah istilah dalam masyarakat Rejang yaitu mueak kakane Ade, beripit kakane coa (murah/gampang bagi mereka yang mampu, susah bagi mereka yang tidak mampu).

4. Adat Rian Bateu Mbateu.

Dalam prinsip ini bantu-membantu yang dimaksut bukan dalam bentuk materi melainkan dalam bentuk tenaga dan atau pikiran. Dalam penerapannya dalam suku Rejang, ada adat yang disebut pinjem artinya ada pekerjaan-pekerjaan tertentu yang dikerjakan oleh kutei (masyarakat), diantaranya:

– Menugal padi di kebun.

-Menegakkan kerangka bangunan atau bubungan rumah.

-Mendirikan Tarub untuk hajatan.

– Mengambil kayu bakar dan bambu untuk tarub hajatan.

5. Bebanea Inde Benuo

Prinsip bermakna dalam menyelesaikan suatu masalah harus dari pokoknya/akarnya terlebih dahulu.

6. Titik Meluo Mbeakba Melei

Arti gamblang dari kalimat “Titik Meluo Mbeakba Melei” adalah masalah sepele/kecil jangan diperbesar. Dalam nilai-nilai suku Rejang masalah anak-anak biarlah anak yang menyelesaikan begitu pula sebaliknya. Hal ini didasarka pada realita yang selama ini biasanya kalau orang tua tidak bijak dalam memutuskan perkara anak maka masalah tersebut akan menjadi lebih rumit.

7. Mengemak, Mengelek (mengambil, mengembalikan).

Mengambil disini bukan dalam arti harfiah yang sehari-hari kita artikan. Melainkan mengambil=mengemak dalam adat Rejang berarti membantu seseorang. Sedangkan mengelek (mengembalikan) disini berarti membalas Budi baik yang seseorang lakukan kepada kita. Membalas Budi baik seseorang dalam adat Rejang tidak harus spontan bisa jadi kelak suatu hari nanti.

8. Butang, Mengasen (Berhutang, Membayar hutang).

Butang secara umum berarti Berhutang dalam bahasa Indonesia. Sedangkan Mengasen dalam bahasa Indonesia berarti membayar hutang. Dalam suku Rejang hal boleh dipiutangkan adalah barang atau benda yang dapat dimakan. Kemudian untuk mengembalikan hutang bisa dengan barang yang serupa atau diuangkan.

9. Janjei Menunggeu.

Janjei artinya janji. Seperti sudah kita ketahui bahwa janji harus ditepati. Begitu pula dalam hukum adat Rejang.

10. Pecoak Bekaping.

Istilah Pecoak Bekaping disini berkaitan erat dengan benda-benda yang bergagang yang terbuat dari kayu, dan dapat juga dihubungkan dengan benda yang memiliki lubang/rongga seperti bambu. Bagi masyarakat adat Rejang pengertian dari Pecoak bekaping disini adalah:

a. Apabila kita mengetahui adanya upaya untuk memecah suatu kelompok masyarakat maka kita harus berusaha merapatkan/memperbaiki hubungan itu lagi.

b. Memang benar-benar kenyataan. Bila kiat meminjam benda bergagang milik orang lain, kemudian gagang benda itu pecah maka kita harus memperbaikinya. Tidak boleh dikembalikan dalam keadaan rusak.

Oke guys itu tadi 10 nilai-nilai atau prinsip dasar yang ada dalam adat suku Rejang. Semoga bisa menambah wawasan pembaca dan menumbuhkan kecintaan kita kepada adat suku Rejang yang luhur ini. Karena kalau bukan kita maka siapa lagi yang akan melestarikan suku-suku yang ada di Indonesia.

Sampai ketemu di blog selanjutnya and bye-bye…✋✋

Diterbitkan oleh aryavisitama

lahir : 05 maret 2003

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai